Pemkot Bogor Rancang Perombakan Drainase Jangka Panjang

  Jumat, 17 Maret 2017   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi: Suasana sawah yang terendam banjir di Desa Tarikolot, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (10/10/2016). (antara)

BOGOR, AYOBOGOR.COM—Pemerintah Kota Bogor tengah merancang perombakan sistem saluran air atau drainase jangka panjang untuk menghindari luapan air akibat curahan hujan yang tidak tertampung.

Wali Kota Bogor Bima Arya menuturkan rencana tersebut harus dilakukan. Sebab Kota Bogor dikenal sebagai wilayah dengan curah hujan tinggi. Sehingga, potensi terjadi luapan air setiap saat tak bisa dihindari.

Selain faktor cuaca yang terbilang alami, Bima menilai potensi banjir di Kota Bogor turut disebabkan betonisiasi di kota hujan. Sehingga area hijau yang bisa dijadikan lahan serapan semakin hari kian menyempit.

"Perkembangan (pembangunan) yang sangat cepat. Kemudian perubahan dari sistem irigasi menuju sistem drainase urban itu perlu perencanaan pembangunan yang sangat serius. Seluruh kota di indonesia juga sama, apalagi kota-kota besar seperti Bogor, Bandung, Surabaya. Tapi kita cicil bertahap," kata Bima selepas mengikuti kelompok diskusi terpusat bersama akademisi, komunitas, pebisnis, dan awak media, di Paseban Sri Bima, Jumat (17/3/2017).

Bima menambahkan saat ini Pemkot Bogor memiliki setidaknya 15 titik zona masterplan perombakan drainase. Ia mengaku belum bisa mewujudkan masterplan tersebut lantaran masih terkendala persoalan anggaran.

"Makanya bisa disiasati dengan bekerja sama dengan universitas untuk pembiayaan masterplan. Seperti masterplan sampah, kan, kita enggak punya uang. Kita mendapat bantuan dari Jepang. Kita pun akan mengadakan pembicaraan-pembicaraan lebih lanjut untuk menindaklanjuti masterplan drainase ini," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bima juga menyoroti faktor keterlibatan manusia yang bisa menjadi pemantik musibah air bah. Dari mulai pengembang yang tak memperhatikan aspek lingkungan, hingga pedagang kecil yang mendirikan bangunan liar tak luput dari sasaran kritik.

Dalam beberapa kesempatan, ia pernah mendapat beberapa informasi terkait adanya oknum-oknum aparat yang melakukan pungli untuk menjamin keberadaan bangunan warung liar yang juga mengurangi areal resapan air.

"Pedagang yang di atas trotoar itu ada yang membekingi, preman, pejabat, aparat. Ada aparat yang membekingi. Saya bersihkan, seminggu kemudian sudah kacau lagi. Mohon dukungannya kalau kita akan melibas oknum-oknum seperti ini. Kita sudah siapkan Satpol PP yang baru, Dishub yang baru, akan melakukan pembersihan drainase-drainase," tutur suami Yane Ardian Racham ini.

Sementara itu, Guru Besar Pengelolaan Lanskap Institut Pertanian Bogor Hadi Susilo Arifin meminta agar masterplan tersebut segera digulirkan. Penanganan tata kelola air, sebutnya, mesti dilakukan secara sistemik dan melibatkan berbagai pihak tak terkecuali masyarakat.

"Karena masyarakat secara sadar tidak sadar sudah melakukan pelanggaran, dengan membuang sampah sembarangan," terang doktor jebolan Okayama University ini.

Ia juga menilai semua pihak mesti memperbaikai cara pandang merka terhadap air. Keberadaan air, tegasnya, tidak boleh melulu berkonotasi negatif.

"Kita punya formulasi agar air dipandang sebagai sumber kehidupan, bukan bencana. Karena sumber kehidupan inilah yang akan kita manfaatkan untuk kehidupan kita," kata dia.(Hengky Sulaksono)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar