Ketika Bogor "Bergejolak" Akibat Transportasi

  Kamis, 23 Maret 2017   Adi Ginanjar Maulana
Ratusan pengemudi ojek daring di Balai Kota Bogor, Rabu (22/3/2017) sore.(Hengky/Ayobogor)

BOGOR, AYOBOGOR.COM--Situasi Bogor Raya mulai bergejolak sejak beberapa hari lalu. Sejumlah konflik horisontal yang melibatkan sopir angkot dan pengemudi ojek daring pecah di beberapa titik di tempat dijuluki kota seribu angkot ini.

Pada Senin (20/3/2017), beberapa bentrokan terjadi di beberapa lokasi. Sejumlah jalanan di Kota Bogor jadi arena baku hantam kedua kubu, termasuk di antaranya di Bogor Trade Mall (BTM), jalan layang Jalan Baru, dan Simpang Yasmin.

Di Simpang Yasmin, dua armada angkot trayek 32 jurusan Cibinong-Pagelaran rusak. Seluruh bagian kaca pecah. Masih di tempat yang sama, seorang pengemudi ojek daring, Yus Rizal (29) jadi korban tabrak lari. Polisi belum bisa memastikan kejadian tersebut murni kecelakaan, atau lantaran disengaja. Namun yang pasti, mobil yang menabrak Yus Rizal merupakan angkot trayek 32.

Hari berikutnya, Selasa (23/2/2017), situasi relatif kondusif. Tak terdengar kabar soal ribut-ribut yang melibatkan dua kelompok yang berseteru. Hanya ada aksi penyisiran yang dilakukan sesama sopir angkot 06 di Jalan Raya Semplak. Sejumlah sopir meminta rekannya bersolidaritas melakukan mogok sebagai aksi protes, dengan cara tidak beroperasi alias mogok.

Hari itu, baik sopir angkot, maupun pengendara ojek daring, kompak tidak beroperasi, meski tidak seluruhnya. Rasa was-was terhadap satu sama lain, maupun terhadap kelompok sendiri, membuat aktivitas dua andalan transportasi publik di kota hujan lumpuh.

Sehari selepasnya, Rabu (22/3/2017) bentrok kembali pecah. Kali ini, Terminal Laladon yang terletak di perbatasan Kabupaten dan Kota Bogor menjadi medan tempur. Akibat bentrok, sejumlah angkot mengalami kerusakan. Pecah kaca hampir di seluruh bagian. Pantauan AyoBogor, setidaknya empat armada—masing-masing dua trayek 02, dan trayek 05—rusak dan terparkir di beberapa titik terminal. Penuturan sejumlah sopir, jumlah angkot rusak lebih banyak.

Dua versi tentang pemantik kerusuhan mencuat. Versi sopir angkot, mereka terlebih dahulu diserang, dilempari batu, diburu dengan balok kayu. Versi armada ojek daring, tindakan mereka merupakan reaksi spontan. Lantaran sopir angkot lah yang memancing keributan. Dengan melontarkan batu ke arah iring-iringan ojek yang hendak melintasi Terminal Laladon menuju Balai Kota. Tujuannya, bertemu Wali Kota, Bima Arya, untuk mengadu nasib.

Kendati menyajikan versi berbeda, ada sehelai benang merah yang dapat dibentangkan dari kedua belah pihak. Aroma kesumat dendam yang begitu kuat dapat tercium. Siapa yang memulai tak menjadi soal. Yang terpenting, dendam harus dibalas tuntas.

Kepulan dendam berbalut solidaritas menjadi kombinasi yang saling melengkapi. Keduanya tak mengenal ruang-waktu, kapan dan di mana kawan mereka jadi bulan-bulanan tak terlampau penting. Yang mesti dihitung ialah bahwa peristiwa itu pernah terjadi.

"Kita enggak rela kalau temen-temen kita yang kena (menjadi korban). Kalau dibiarkan, mereka akan seenaknya. Kita enggak pernah takut," tutur salah seorang pengemudi ojek daring, Indra, Rabu (22/3/2017).

Senapas, narasi dendam juga menggagahi benak sejumlah sopir angkot. Rasa frustrasi lantaran kian sulitnya mencari duit, dipantik rasa terdolimi secara fisik oleh pengemudi ojek daring, bak sebatang korek api yang bersiap menyala dan menyulut pom bensin. Lalu meledak sekencang-kencangnya.

"Intinya, kalau sampai mereka terus-terusan ngajak ribut, kita enggak takut. Kita bakal samperin ke markas mereka. Kita siap balas dendam," ujar salah seorang sopir angkot di Terminal Laladon, yang mengaku bernama Boy.

Kerasnya suasana hidup di jalanan semakin terasa semenjak invasi gila-gilaan layanan ojek online. Harapan mereka mendulang rupiah semakin kembang-kempis setiap harinya.

"Kita ingin ojek online dihapus. Kalau enggak, dibatasi. Tarifnya juga jangan kemurahan. Supaya kita bisa bersaing secara sehat," Boy menuntut.

Respons Polisi

Seolah tak mau kecolongan pasca bentrok di Yasmin, Polresta Bogor menurunkan seluruh kekuatan guna mengantisipasi bentrok susulan. Kepolisian mengumumkan kondisi Kota Bogor telah kembali kondusif. Kendati demikian, Polresta Bogor tetap menurunkan sebagian personelnya untuk mengawal situasi kamtibmas di lapangan.

"Polres Bogor all out. Semua turun. Dari jumlah personel sekira 2000-an, kita kerahkan dua pertiganya," kata Kepala Bagian Operasi Polresta Bogor, Komisaris Polisi Tri Suhartanto, di Markas Polresta Bogor, Jalan Kapten Muslihat, Selasa (21/3/2017).

Tak hanya itu, Polresta Bogor juga mendapat bantuan sejumlah tiga satuan setingkat kompi (SSK) Brigade Mobil (Brimob) serta satu satuan setingkat pleton (SST) pengendali massa (Dalmas) Polda Jawa Barat untuk mengamankan situasi.

"Kita juga sudah melakukan pemetaan titik-titik mana saja yang menjadi perhatian. Seperti terminal, dan sejumlah titik-titik penumpukan massa lainnya," tutur Tri.

Di Kabupaten Bogor, sejumlah anggota Polres Bogor dari berbagai satuan juga ditempatkan di beberapa titik untuk mengantisipasi mogok angkot dan bentrokan susulan di sejumlah titik Kabupaten Bogor.

Sejumlah personel yang disebar di antaranya masing-masing satu SST Dalmas di Pasar Ciluar, Pasar Ciawi, di depan Hotel Duta Berlian di kawasan Dramaga, serta antisipasi pengamanan unjuk rasa buruh di PT. Frozen.

Lebih lanjut, dua SST Dalmas juga diturunkan di sepanjang Jalan Raya Bogor untuk mengangkut warga yang terlantar akibat pemogokan angkot. Selebihnya, sejumlah kendaraan patroli juga dikerahkan untuk melaksanakan patroli di jalur Jalan Raya Bogor dan Jalan Raya Keradenan.

"Selain itu, anggota polsek tersebar di jalan untuk memonitor dan pengamanan. Situasi Cibinong aman terkendali," terang Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus.

Jaminan Keamanan

"Silakan beroperasi, tidak perlu takut, pada intinya Kota Bogor dalam keadaan aman," ujar Tri, meyakinkan sambil memberikan jaminan keamanan, Selasa (21/3/2017).

Tri menegaskan, korps bhayangkara menjamin sepenuhnya keamanan sopir angkot dan pengemudi ojek online. Seperti janji Tri sebelumnya, Polresta Bogor bakal all out melakukan penjagaan.

Ia juga meminta masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadinya bentrok susulan. Masyarakat, imbuhnya, sudah bisa menggunakan kedua jenis jasa transportasi tersebut secara aman.

"Kalaupun terjadi kekurangan, karena ketakutan sopir angkot untuk beroperasi. Armada-armada sudah dipersiapkan, baik dari TNI, Polri, maupun Pemda," sebut Tri.

Wanti-wanti juga dikeluarkan, agar sopir angkot maupun pengemudi ojek daring tidak melakukan aksi penyisiran sepihak. Sebab, jika terdapat pihak yang tidak menghendaki, hal tersebut dapat diperkarakan secara hukum.

"Kalau memang misalkan terjadi sweeping, silakan laporkan kepada kita. Jika ada pemaksaan, apalagi sampai melakuakn pengrusakan itu sudah terjadi suatu tindak pidana," kata dia.

Jaminan juga keluar dari moncong Wali Kota Bogor, Bima Arya. Bahkan, Bima mengklaim tidak beroperasinya angkot seperti sedia kala pasca bentrok Yasmin, bukan disebabkan pengemudi angkot yang menghendaki mogok beroperasi. Melainkan lantaran sejumlah pengemudi ketakutan disisir jika kedapatan mengangkut penumpang.

Pasca tersiar kabar aksi penyisiran di Semplak, Bima langsung berembuk bersama sejumlah sopir angkot di Balai Kota Bogor. Hasil rembuk tersebut, disepakati seluruh trayek angkot yang beroperasi di Kota Bogor bakal mulai kembali berjalan Selasa (21/3/2017).

"Kita jamin keamanan para pengemudi angkot ini, bersama TNI, dan kepolisian. Mulai detik ini, angkot di Kota Bogor sudah bisa beroperasi," kata dia.

Tindakan Tegas

"Kita warga juga kena imbas. Kemarin Wali Kota katanya ngasih jaminan keamanan. Ada, saya punya rekamannya. Waktu ketemu sama sopir angkot (di Balai Kota). Ini sekarang malah kejadian lagi. Enggak cuma angkot sama ojek online aja. Warga jadi korban. Harus tegas dong!" salah seorang warga di sekitaran Terminal Laladon mengoceh kepada AyoBogor.

Ia berharap, kisruh Terminal Laladon menjadi episode penutup rangakaian bentrok. Bentrok barang tentu menimbulkan rasa takut, was-was, dan trauma. Lebih dari itu, bentrok juga menimbulkan keruagian materil yang tak sedikit, akibat kerusakan, dan terhentinya aktivitas ekonomi.

Hari saat bentrok Terminal Laladon Pecah, pertokoan tutup lebih awal, jalanan di seputar terminal diblokade, aktivitas jual-beli di Pasar Laladon terhenti, roda perputaran duit ikut macet seiring dengan tak berputarnya roda-roda angkot di Terminal Laladon.

Kapolresta Bogor, Komisaris Besar Polisi Ulung Sampurna Jaya tidak melontarkan janji pemberian sanksi tegas kepada pelaku pengrusakan. Namun ia mengaku bakal menelusuri pengrusakan di Terminal Laladon.

"Kita akan periksa saksi saksinya dulu, kalau langkah tindakan tegas karena pengrusakan itu pasti ada," jelas Ulung.

Ulung yang baru sehari menjabat sebagai Kapolresta Bogor, memiliki pekerjaan rumah besar. Ia menilai perlu adanya koordinasi lintas sektoral antara pemerintahan maupun kepolisian kabupaten dan kota.

Kapolres Bogor, Ajun Komisaris Besar Polisi Andi M. Dicky Pastika Gading berjanji bakal mencari dan menindak tegas dalang di balik kerusuhan di Terminal Laladon. Pihaknya bakal mempelajari rekaman-rekaman video kerusuhan yang sempat diabadikan warga. Ia juga berjanji bakal menempatkan sejumlah personel guna mengantisipasi bentrok susulan.

"Sudah sejak dari kemarin kita menyebar personel di lapangan untuk antisipasi bentrok. Kemudian kita akan upayakan mediasi lagi untuk masalah angkot dan ojek online," kata dia.(Hengky Sulaksono)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar