Kecelakaan Maut Puncak, Operator Berpeluang Jadi Tersangka

  Selasa, 25 April 2017   Adi Ginanjar Maulana
Kecelakaan beruntun di jalur Puncak Bogor, Sabtu (22/4/2017).(ist)

BOGOR, AYOBOGOR.COM--Kepolisian tak menutup kemungkinan bakal menyeret pihak operator bus HS Transport menyusul kecelakaan maut yang melibatkan belasan kendaraan dan menewaskan empat orang di Tanjakan Selarong, Puncak, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu.

"Kemungkinan ada," kata Kepala Sub Bidang Penyidikan Kecelakaan Lalu Lintas Direktorat Penengakan Hukum Markas Besar Polri, Ajun Komisaris Besar Polisi Dedy Suhartono, saat ditanya kemungkinan adanya tersangka baru dalam perkara tersebut, Selasa (25/4/2017).

Tersangka baru yang bakal muncul bukan mustahil berasal dari pihak operator. Secara eksplisit Dedy menilai adanya keterlibatan pihak tertentu dengan cara mengizinkan bus untuk beroperasi.

"Siapa yang nyuruh, kenapa kendaraan sudah tahu tidak layak, bisa dioperasionalkan," katanya.

Dedy berujar, sejauh ini kepolisian telah melakukan pemanggilan terhadap pengelola bus. Ia juga tak menutup kemungkinan jika sanksi yang dikeluarkan nantinya berbuntut pencabutan izin operasi.

Ia menilai, semestinya pengelola melakukan pngecakan terhadap kondisi bus sebelum memberi izin operasi. Hasil penyelidikan sementara, terungkap rem blong bus HS Transport menyebabkan laju kendaraan tak terbendung dan mencapai 70-80 kilometer/jam sebelum menabrak.

Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menyoroti instrumen Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang cenderung menyudutkan pengemudi jika terjadi kecelakaan. Padahal, katanya, terdapat peran pengusaha dan pemerintah yang mestinya ikut mengawasi kelaikan alat transportasi.

"Pengawasan pemerintah terhadap bus wisata perlu diperketat lagi. Tata kelola bus wisata perlu ditinjau ulang," katanya.

Ia juga mngatakan jika setiap perusahaan angkutan umum wajib mematuhi dan memberlakukan ketentuan waktu kerja, waktu istirahat, dan pergantian pengemudi kendaraan bermotor umum. Waktu kerja pengemudi kendaraan umum, sebut Djoko, paling lama delapan jam sehari. Selepasnya, pengemudi wajib beristirahat setidaknya selama empat jam berturut-turut.

"Hal ini terkadang tidak berlaku di bus pariwisata. Dianggap sopir bisa istirahat saat pelancong kunjungi obyek wisata," kata dia.(Hengky Sulaksono)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar