Mesin Bikinan Peneliti LIPI Ini Sanggup Sulap Air Gambut Menjadi Jernih

  Rabu, 26 April 2017   Asri Wuni Wulandari
Peneliti LIPI, Sutrisno bersama mesin Advance Oxydation Process Reverse Ismosis (AOPRO).

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Warna kuning kecoklatan yang identik dengan air gambut menjadi salah satu penanda kondisi air tak laik konsumsi. Kandungan minyak dan berbagai zat organik di dalam air membuat tampakan dan kualitas air tergolong buruk.

Kendati begitu, tak berarti air gambut tak bisa dimanfaatkan sama sekali. Tak ada yang tak mungkin. Segala kemungkinan alternatif dapat dijajal berkat ilmu pengetahuan. Yang semula dianggap muskil ditelan, kini menjadi mungkin.

Contohnya, air gambut ini. Berkat  mesin Advance Oxydation Process Reverse Ismosis (AOPRO) rancangan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sutrisno Salomo Hutagalung, air yang semula keruh dapat berubah jernih.

Mesin AOPRO tersebut telah beroperasi sejak dua tahun ke belakang. Menghabiskan biaya sekira Rp 600 juta, mesin mulai dirancang dan diproduksi sejak 2012-2014 lalu. Saat ini, kata Sutrisno, mesin AOPRO belum ada duanya di Indonesia.

Inovasi teknologi yang dipatenkan sejak 2015 ini memiliki panjang sekira tiga meter dengan tinggi sekira dua meter. Di bagian kiri dan kanan mesin, terdapat kotak panel listrik. Sementara di bagian tengah terdapat peranti komputer pengendali mesin.

Secara singkat, mesin ini menggunakan tabung oksigen yang ditembaki ozon yang berfungsi membunuh mikroorganisme, menetralkan bau, dan menjernihkan air dalam proses penjernihan. Mesin juga menggunakan ultraviolet yang dicampurkan ke dalam air.

Selain itu, AOPRO juga menggunakan saringan berlapis tiga, tersusun dari pasir resin, keloid, dan karbonaktif. Serta saringan yang menggunakan katrid. Fungsinya, tentu untuk menjernihkan air.

Secara lebih sederhana, air bakal berubah warna, laik guna dan pakai setelah melalui proses penjernihan dan pembersihan selama dua hingga tiga jam. Daya listrik yang terpakai mencapai 3.500 watt. Sekali beroperasi, mesin ini sanggup mengolah 200 liter air atau setara dengan delapan galon air isi ulang. Tingkat kejernihan air yang dihasilkan mencapai 0 ppm, dengan pH 8,5, dan kandungan oksigen larut 110 ppm.

"Jadi sudah sangat baik sekali kualitas airnya. Sudah tidak ada mineral yang bercampur," kata Sutrisno saat dijumpai di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (25/4/2017).

Bukan tanpa alasan Sutrisno memilih membuat mesin pengolah air gambut ini. Menurut Sutrisno, Indonesia merupakan negara pemilik air gambut terbesar keempat di dunia. Lokasi air gambut umumnya ditemukan di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Sayangnya, rancangan mesin AOPRO belum banyak dilirik. Mesin hanya digunakan untuk keperluan produksi internal dan dipajang saat pameran-pameran. Sisanya praktis dikandangkan. Peran Sutrisno sebagai peneliti tulen membuatnya tak punya wewenang untuk menjajaki kerja sama.

"Ini sudah dipamerkan saja. Ini tinggal dipabrikasi sebetulnya," katanya. "Nanti Pusat Inovasi (LIPI) yang melakukan kerja sama dan lain sebagainya," dia menambahkan.

Tak hanya air gambut, mesin rancangan Sutrisno juga bisa menyaring berbagai jenis air. Peneliti Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI ini juga tak menutup kemungkinan jika ke depan, mesin AOPRO dapat digunakan di PDAM-PDAM. Sehingga, imajinasi penduduk Indonesia untuk bisa meminum air langsung dari kucuran keran dapat diwujudkan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar