Di Cirebon Ada Alat Penyerap Polusi

  Selasa, 30 Juli 2019   Erika Lia
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

INDRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Karena sebuah alat penyerap polusi udara yang dinamai Sappu Jagad, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Kabupaten Indramayu, diganjar penghargaan Kalpataru.

Sappu Jagad sendiri merupakan kependekan dari Sarana Penyerap Polutan Udara, Jaga Gangguan, dan Dampaknya. Sang guru IPA dimaksud, Sutarjo, telah menciptakannya sejak sepuluh tahun lalu atau pada 2009.

Sappu Jagad diciptakan Sutarjo sejak dirinya mulai mengetahui dampak buruk pemanasan global terhadap bumi. Dia mengetahui, secara teori, air kapur yang bercampur dengan zat karbondioksida (CO2) akan membentuk endapan kalsium karbonat.

"Sebenarnya sistem kerja Sappu Jagad itu sederhana," ujar guru di SMP Unggulan Indramayu itu, tak lama ini, seperti dilaporkan ayocirebon.com, Selasa (30/7/2019).

Dia menjelaskan, air yang diletakkan dalam kotak dikipasi dengan kipas kecil untuk menyerap polutan yang ada di udara. Dalam kotak itu, polutan dan air kapur tersebut selanjutnya mengkristal.

Sappu Jagad sendiri tercipta melalui serangkaian percobaan. Tak hanya dilakukan di lingkungan tempatnya tinggal, Sutarjo bahkan pernah melakukannya sepanjang perjalanan mudiknya ke Semarang.

AYO BACA : Nanti Perpustakaan di Cirebon Bakal Jadi Wadah Kreativitas

"Sepanjang jalan dari Indramayu ke Semarang, ternyata penuh polusi," ungkapnya.

Dia menyebutkan, kristal yang terbentuk dari hasil percobaannya itu berwarna coklat kehitaman dan bukannya putih. Dengan kata lain, jelasnya, yang terserap bukan hanya CO2, melainkan pula kotoran dan debu di udara.

Kesimpulan itu diperkuat tes laboratorium oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2012. Dari hasil uji lab diketahui dalam kristal itu terkandung pula sejumlah zat berbahaya lain, seperti merkuri, zat besi, cadmium, stronsium, dan flour.

Namun rupanya, kristal-kristal air kapur berpolutan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair yang menyuburkan tanaman non pangan. Untuk ini, terlebih dulu kristal itu dilarutkan dalam air sebelum kemudian disiramkan pada akar tanaman.

"Siram di bagian akar tanamannya supaya subur," katanya mengingatkan.

Kepedulian Sutarjo terhadap lingkungan tak hanya dengan menciptakan Sappu Jagad. Dia pun menciptakan Gerakan Siswa Cinta Limbah berupa ajakan agar anak-anak didiknya mencintai limbah.

AYO BACA : Mendongeng Berpengaruh Pada Pembentukan Karakter Anak

Para siswa dimintanya memanfaatkan air bekas cucian beras, daging, dan sayur, untuk menyiram tanaman di rumah masing-masing. Menurutnya, upaya itu dapat menghubungkan antara pendidikan dengan masyarakat.

Sutarjo mengolah pula limbah cucian piring, baju, dan sisa mandi, menjadi nutrisi hewan. Sekalipun mengandung sabun, pasca diolah dengan sistem fermentasi, limbah itu rupanya berubah menjadi nutrisi yang tak berbahaya bagi hewan.

"Hasilnya kami berikan ke peternak kambing dengan gratis," cetusnya.

Tak berhenti sampai di situ, dia pun hingga kini tak berhenti menggalakkan gerakan menabung oksigen menggunakan kertas bekas. Untuk ini, kertas bekas dijadikan sebagai pupuk tanaman sehingga tanaman bisa tumbuh subur dan menghasilkan oksigen.

"Menanam sama artinya dengan menabung oksigen," tambahnya.

Dia juga membuat pupuk kompos dari daun-daunan. Dalam waktu sepekan, pupuk kompos siap digunakan sebagai penyubur tanaman.

Serentetan upaya Sutarjo menjaga bumi itu berbuah manis dengan berbagai penghargaan yang diraihnya kemudian. Suatu hari, pada 10 Juli 2019, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya Bakar, bahkan menganugerahinya penghargaan Kalpataru yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup di Jakarta.

"Tapi, saya masih akan terus melestarikan lingkungan, untuk lingkungan sekitar dan masyarakat lain," janjinya.

AYO BACA : Kreativitas Drum Bekas di Tangan Suhanan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar