Anggota Komisi IX DPR RI Nilai Program Kampung KB di Kota Bogor Sukses

  Jumat, 14 Februari 2020   Republika.co.id
Ilustrasi kampung KB. (ayobandung)

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendorong Kampung Keluarga Berencana (KB) di Kota Bogor dapat menjadi percontohan secara nasional. Sebab, Kampung KB di Kota Bogor dinilai sukses dalam menjalankan program.

"Nah ini nantinya bagaimana ke depan Kampung KB di Bogor ini jadi percontohan untuk daerah-daerah lain," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh di Balai Kota Bogor, Kamis (13/2).

Ninik, sapaan akrabnya, menilai Kampung KB di Kota Bogor masih dijalankan dengan baik sejak digulirkan oleh presiden pada tahun 2016. Jika kebanyakan di derah lain hanya formalitas, sambung Nikik, Kota Bogor sangat serius dalam menggalakkan KB dan kualitas anak di Kota Bogor.

"Kampung KB ini bukan hanya menjadi program dua anak cukup, kualitas generasinya baik tapi juga memfasilitasi untuk pengembangan anak dan kependudukan di situ," ujar dia.

Meskipun demikian, Nikik mengatakan masih belum mengetahui jumlah angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kota Bogor. Karena itu, sebelum menjadikan Kampung KB di Kota Bogor sebagai percontohan nasional, dia mengatakan akan meminta data AKB dan AKI.

AYO BACA : Krisdayanti Senang Datang ke Bogor Karena Kampung KB

"Karena AKB dan AKI jadi salah satu indikator kesuksesan program ini. Kalau AKB dan AKI turun, ini tentu indikasi permasalahan kependudukan selesai dan sukses, begitupun sebaliknya," kata dia.

Selain Kampung KB, Nikik mengatakan, program Sekolah Ibu di Kota Bogor patut mendapat perhatian. Pasalnya, program tersebut telah dicontoh oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Sekolah Ibu ini ditarik ke menjadi program provinsi menjadi program Sekoper Cinta," kata dia.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menjelaskan Kampung KB di Kota Bogor telah mencapai 26 Kampung. Kampung itu, kata Dedie, masih memberi kontribusi besar dalam mengendalikan junlah penduduk di Kota Bogor.

"Sampai hari ini masih eksies masih berkontribusi untuk penegendalian kependudukan kemudian juga untuk kegiatan lain terkait keluarga berencana," kata Dedie.

Dia mengatakan Komisi IX DPR RI akan mengajukan pembahasan ke Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mencontoh Kampung KB di Kota Bogor. Sehingga, pengendalian penduduk dapat dijalankan dengan baik.

"Hasil rapat kerja khusus ini akan mereka bawa dalam rapat kerja antara Komisi IX dengan BKKBN yang nantinya akan elaborasi bagimana mengendalikan kependudukan secara umum," katanya.

Selain itu, dia mengatakan, Kampung KB di Bogor telah memperoleh banyak apresiasi dan penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Barat. Ke depan, Dedie berharap Kampung KB dapat mengendalikan laju junlah penduduk di Kota Bogor.

"Karena ini pemberdayaan masayarakat yang cukup berhasil karena masyarakat juga bisa aktif, masayarakt juga bisa memberikan inovasi yang mendukung keberadaan Kampung KB langgeng sampai hari ini," kata Dedie.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bogor dari tahun pada 2015, jumlah kematian ibu sebanyak 21 orang. Sedangkan, 2016 jumlahnya meningkat sebanyak 22 kasus. 2017 jumlah kematian ibu menurun drastis dengan jumlah 6 orang.

Untuk kematian bayi baru lahir, yang berusia 0–28 hari sebanyak 51 anak pada tahun 2015, 43 anak pada tahun 2016 dan pada 2017 meningkat menjadi 64 anak. Sedangkan, jumlah kematian bayi berusia 1–11 bulan pada 2015 sebanyak 14 anak, pada 2016 dan 2017 sebanyak 10 anak.

Kematian pada anak balita usia 1–5 tahun pada 2015 sebanyak 7 anak, naik di 2016 sebanyak 9 anak, dan kem­bali meningkat 100 persen pada 2017 sebanyak 18 anak.

Wakil Ketua TP PKK Kota Bogor Yantie A Rachim menjelaskan pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan koordinasi dengan berbagai lembag. Sehingga, Kampung KB dapat terus dikembangkan di Kota Bogor.

"2020, kita akan lebih fokus ke kesehatan dan pendidikan. Beberapa Kampung atau wilayah yang tadinya tak terpeganag," kata Yantie.

Disinggung terkait kesulitan yang dihadapi, Yantie mengungkapkan, setiap daerah memiliki kesulitan yang berbeda. Karena itu, dia menyatakan, akan lebih berupaya untuk mengkonsentrasikan program pada kesehatan anak.

"Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak perempuan juga harus mengenalkan dengan gizi yang baik, setelah itu, dia menikah, hamil dan dapat mengikuti KB," kata dia.

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar