Tiongkok Miliki Tokoh Klasik Bela Diri dari Kalangan Muslim

  Selasa, 15 September 2020   Republika.co.id
Ilustrasi (Pixabay)

LENGKONG,AYOBOGOR.COM -- Umat Islam turut serta dalam perkembangan dan pengembangan bela diri wushu. Berdasarkan catatan sejarah, semua berakar pada masa Dinasti Qing. Saat itu, umat Muslim di Tiongkok atau lebih sering disebut Hui mengalami tekanan dan penganiayaan.

Dalam masa sulit itu, mereka mengadaptasi berbagai macam gaya bela diri wushu seperti bajiquan, piquazhang, dan liuhequan. Sebuah kota yang dikenal sebagai pusat wushu Muslim adalah Kota Cang di Provinsi Hebei.

- Wa Xianda
Dalam sejarah bajiquan, Wa Xianda adalah seorang legendaris. Wa Xianda lahir pada 1932 dari keluarga Hui (Muslim) di Provinsi Hebei. Di dalam keluarganya, bela diri sudah diajarkan turun-temurun sampai tujuh generasi.
 
Semasa kecil, ia mendapatkan pelajaran bela diri dari ayahnya Ma Fengtu dan pamannya Ma Yintu. Berbagai teknik wushu dia pelajari, tidak hanya bajiquan saja. Mulai dari tongbeiquan, piguaquan, bashanfen, dan cuojiao juga dipelajarinya.

Tidak hanya berhenti pada bela diri produk dalam negeri, Ma Xianda juga belajar anggar, gulat, dan tinju. Latihan dan dedikasi yang luar biasa terhadap bela diri menempatkannya di dalam jajaran grandmaster dalam dunia persilatan Tiongkok. Dia sudah berada di level tertinggi atau Duan Sembilan.

- Wang Zi-Ping
Ia dilahirkan pada 1881 di Kota Cang, Provinsi Hebei. Pada saat kelahirannya, kerajaan Tiongkok sedang dalam masa-masa yang bergolak. Wang sudah mulai belajar wushu sejak umur enam tahun, sehingga saat masa dewasanya dia sudah menguasai banyak teknik wushu.

Dia adalah master dalam menggunakan berbagai senjata, ahli dalam qinna (teknik kuncian), shuaijiao (gulat), bela diri gaya bebas, ahli pernapasan, dan meringankan tubuh. Dia dikenal sebagai master bela diri serba bisa.

-  Chang Tung Sheng
Di dunia shuaijiao (gulat), ia adalah seorang legendaris. Lahir pada 1908 di Baoding, Provinsi Hebei, Chang adalah anak yang sangat kuat di antara teman-teman masa kecilnya. Keluarganya yang berkecukupan memfasilitasinya untuk belajar bela diri pada Zhang Fenyen, seorang ahli shuaijiao.

Ia telah berbagai kelebihan di antara murid-murid Zhang yang lain. Hal ini membuat hubungan guru dan murid itu semakin dekat. Zhang tidak hanya mengajarkan gaya-gaya klasik shuaijio, tetapi juga gaya dan metode latihan yang tidak ortodoks. Tujuannya untuk lebih mengasah kemampuan Chang.

Pada 1933, Chang pernah memenangkan turnamen bela diri Kuo Shu. Orang-orang memanggil dia ketika itu sebagai Kupu-Kupu Besi. Pada masa perang antara Tiongkok dan Jepang serta pada Perang Dunia II, Chang sempat mengajar bela diri bagi para prajurit Tiongkok. Dia adalah master bela diri tidak terkalahkan. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar