RSUD Kota Bogor Dievaluasi Usai Jenazah Covid-19 Tertukar

  Rabu, 06 Januari 2021   Republika.co.id
Sejumlah petugas dan tenaga kesehatan melakukan tepuk tangan bersama selama 56 detik di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/11/2020). Kegiatan tepuk tangan bersama dan pembagian masker berbahan kain tersebut selain dalam rangka memperingati Hari Kesehataan (Republika/Antara)
BOGOR, AYOBOGOR.COM  -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengevalusai kinerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor atas insiden jenazah pasien Covid-19 yang hampir tertukar di ruang isolasi RSUD pada Rabu (30/12).
 
Diketahui, pada Senin (4/1), DF (24 tahun) menjelaskan, ibunya W (44) mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Kota Bogor pada Rabu (30/12) sekitar pukul 00.05 WIB. Namun, oleh petugas RSUD, surat kematian ditulis pada Selasa (29/12). Selain itu, DF menambahkan, insiden terjadi ketika jenazah ibunya hampir tertukar dengan jenazah laki-laki yang juga berstatus positif Covid-19.
 
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyampaikan, ada dua hal yang wajib dievaluasi manajemen RSUD Kota Bogor . Pertama, ruang perawatan tidak boleh dibiarkan kosong. 
 
"Tidak boleh kosong. Apalagi, ada jenazahnya itu tetep harus ada piket di situ,” ujar Bima ketika ditemui di Balai Kota Bogor, Selasa (5/2).
 
Kedua, kata Bima, nantinya begitu ada pasien Covid-19 yang meninggal dunia, jenazah pasien harus segera diberi nama. Langkah itu dilakukan supaya kasus seorang ibu meninggal akibat positif Covid-19 diberi nama laki-laki yang ternyata tertukar jenazah pasien Covid-19 lainnya. 
 
“Yang kedua, begitu jenazah meninggal, harus langsung dilabel. Diberikan tag atau identitas supaya tidak tertukar. Itu evaluasinya,” tutur Bima.
 
Tak hanya itu, kata dia, manajemen RSUD pun sudah menjadikan masalah itu untuk melakukan evaluasi internal. Bima menyatakan, evaluasi itu dipimpin langsung oleh Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir, bersama jajarannya. Sehingga, kasus serupa bisa diantisipasi agar tidak sampai terulang kembali.
 
Disinggung mengenai minimnya tenaga kesehatan (nakes) yang berjaga pada malam hari di RSUD, Bima tidak memungkirinya. Dia mengaku, saat ini, jumlah nakes memang berkurang. Mereka yang harusnya ikut merawat pasien positif Covid-19, ada yang ikut tertular. Alhasil, pekerjaan tertentu harus ditangani nakes lain secara dobel.
 
Bima pun meminta manajemen RSUD untuk merekrut nakes baru untuk mengisi kekosongan posisi mereka yang positif Covid-19. "Karena banyak nakes yang terpapar, kemudian jadi kurang. Jadi, saya minta tolong diatasi kesulitan itu. Kan sekarang juga sedang dilakukan proses rekrutmen nakes oleh RSUD,” kata Bima.
 
Patuhi SOP
 
Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto, menyarankan agar nakes yang bekerja menangani pasien Covid-19 harus mematuhi standar operasional prosedur (SOP). Pun dengan manajemen RSUD wajib memperkuat SOP agar ditaati seluruh nakes.
 
Atang memahami jika para nakes semakin lelah, dan beban kerjanya bertambah berat. Dengan kondisi seperti itu, sambung dia, Apalagi, saat ini tingkat penyebaran Covid-19 di Kota Bogor semakin tinggi di angka 60-70-an kasus positif per hari. Hal itu jelas membuat ruang perawatan isolasi semakin penuh, dan nakes harus bekerja ekstra menangani pasien.
 
Mengingat kewaspadaan tetap harus tinggi, kata Atang, alur penanganan jenazah pasien Covid-19 tetap harus ketat. “SOP tetap harus dijalankan, termasuk kegiatan di luar aktivitas penanganan medis. Kejadian tertukarnya jenazah berarti menjadi warning agar SOP tetap harus jalan,” kata Atang.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar