Bogor Timur Mekar, 40 Persen Pendapatan Kabupaten Bogor Hilang

  Senin, 19 April 2021   Yogi Faisal
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Burhanudin

CIBINONG, AYOBOGOR - Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor untuk memekarkan wilayah Bogor Timur kian santer terdengar. Terlebih wacana tersebut sempat dibahas pada rapat persetujuan Calon Daerah Persiapan Otonomi Baru (CDPOB), di Ruang Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat belum lama ini.

Jika rencana pemekaran Bogor Timur benar terwujud, tentunya hal ini bakal sangat berdampak pada pendapatan Kabupaten Bogor. Sebab, sekitar 40 persen pendapatan daerah Kabupaten Bogor berasal dari wilayah Bogor Timur.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Bogor, Suryanto Putra mengatakan, kehilangan sumber pendapatan tentunya bakal menjadi PR bagi Pemkab Bogor.

Sebab, Pemkab Bogor mesti memikirkan cara dan solusi, untuk menambal dan mencari sumber baru pendapatan daerah. "Tentu kita harus melakukan hitung-hitungan kembali. Kita juga harus menggali potensi pendapatan lain, untuk menutupi pendapatan kita yang hilang nanti kalau Bogor Timur mekar," katanya.

Sumber pendapatan yang disumbangkan wilayah Bogor Timur didominasi oleh sektor industri. Namun Suryanto menilai jika keinginan mekar suatu wilayah tidak lah bisa dibatasi demi pelayanan maksimal kepada masyarakat dan meratanya pembangunan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Burhanudin menilai, hal tersebut bukan lah sebuah masalah. Meski Pemkab Bogor bakal kehilangan sejumlah potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun hal tersebut bukanlah masalah besar.

"Kabupaten Bogor sebagai induk tidak ada masalah. Aman termasuk sumber PAD, apalagi melihat perkembangan ekonomi di Cibinong Raya, kawasan Lido, kawasan industri Gunungsindur hingga pariwisata Puncak. Saya rasa ini masih tergolong aman," ucapnya.

Di samping itu dia menjelaskan, jika pun Bogor Barat dan Bogor Timur mekar dan memisahkan diri, secara administrasi kedua wilayah tersebut akan akan bergantung kepada Kabupaten Bogor atau kabupaten induk selama tiga tahun.

"Kan menjadi daerah persiapan dulu selama tiga tahun, yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah. Kalau dalam tiga tahun itu aspek-aspek kewilayahan dinilai tidak layak, sumber PAD tidak memadai, kesiapan SDM aparatur kurang dan lainnya, itu bisa saja daerah persiapan dikembalikan lagi ke induk," jelas Burhan.

Selama tiga tahun berstatus daerah persiapan, Burhan menyebut bahwa akan ada tim penilai independen dari pemerintah pusat untuk melihat kelayakan sebuah daerah layak menjadi otonom atau tidak.

"Kalau tim independen dan pemerintah pusat menilai tidak layak ya akan dikembalikan ke daerah induk dan tidak disetujui menjadi daerah otonomi baru lewat undang-undang," ujarnya.

Kendati demikian, dia menilai jika secara aspek kewilayahan Bogor Barat dan Timur sudah layak mekar. "Apabila ada political will dari pemerintah, rasanya layak dan aman dari berbagai aspek kewilayahan," tutupnya.

Sekedar diketahui jika Bogor Timur mekar atau menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB), sedikitnya ada tujuh kecamatan dengan 75 desa yang akan memisahkan diri. Di antaranya Kecamatan Gunung Putri 10 desa, Cileungsi 12 desa, Klapanunggal 9 desa, Jonggol 14 desa, Cariu 10 desa , Sukamakmur 10 desa, dan Tanjungsari 10 desa.

Dari jumlah wilayah tersebut, sebanyak 1,5 juta jiwa penduduk di Bogor Timur dipastikan memisahkan diri dari kabupaten induk jika wilayahnya mekar.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar